Kabar Nusantara
Jambi Berpotensi Turunkan Gas Rumah Kaca
Senin, 9 November 2009 03:18 WIB
Jambi, (tvOne)
Provinsi Jambi mempunyai potensi untuk menekan penurunan efek Gas Rumah Kaca (GRC), karena daerah ini masih memiliki hutan yang cukup luas. Demikian diungkapkan Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Keuangan DR Sayid Syekh, M.Si.
Luas kawasan hutan tetap di Provinsi Jambi berdasarkan SK Menhut Nomor 421 jo SK Gubernur Nomor 108 Tahun 1999 mencapai 2.179.440 hektare. Rinciannya adalah, Hutan Produksi Terbatas (HPT) 340.700 Ha, Hutan Produksi Tetap 971.498 Ha, Hutan Lindung 191.130 Ha, Hutan Suaka Alam 30.400 Ha, Cagar Alam 648.720 Ha, Taman Nasional 608.638 Ha, Tahura 36.668 Ha dan Wisata Alam 430 Ha.
Sayid mengatakan, jika lahan ini dikelola dengan baik dan benar, Provinsi Jambi mempunyai potensi yang sangat menguntungkan untuk menekan penurunan GRK. Ini pada akhirnya berdampak pada peningkatan hidup masyarakat di Provinsi Jambi.
Menurut dia, berdasarkan satu temuan yang disampaikan pada Konferensi Stockholm pada tahun 1972 menyebutkan telah terjadi kenaikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang akan mempengaruhi temperatur bumi.
Pada tahun 1992 diselenggarakan Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim, yang dikenal dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio De Janeiro Brazil. Salah satu tujuan pokok KTT Bumi tersebut menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca (greenhouse gases) pada tingkat yang aman yang tidak mengganggu sistem iklim secara global. Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani Konvensi tersebut dan telah meratifikasi melalui Undang-Undang No. 6 Tahun 1994.
Sayid menambahkan, kemudian pada tahun 1997 dilaksanakan Konvensi Kyoto di Jepang dan dikenal dengan Kesepakatan Protokol Kyoto. Kesepakatan itu mengatur dan mengikat para pihak negara industri secara hukum untuk melaksanakan upaya penurunan emisi GRK.
Dari paparan para ilmuwan bahwa penyebab lain meningkatnya suhu bumi adalah karena kegiatan dari penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan kegiatan pembukaan lahan yang tidak teratur. Baik untuk kegiatan pertambangan maupun untuk keperluan lainnya.
"Oleh karena itu, Provinsi Jambi dengan hutannya yang cukup luas itu berpotensi untuk berperan menurunkan GRK," ujarnya. (Ant)
