Kabar Nusantara
Pembangunan Rumah Korban Gempa Kesulitan Bahan Baku
Kamis, 19 November 2009 06:28 WIB
Pariaman, (tvOne)
Pembangunan rumah darurat bagi korban gempa di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, kesulitan bahan baku sehingga harus mendatangkan dari luar provinsi, bahkan didatangkan dari Pulau Jawa.
"Kami kesulitan mendapatkan bahan baku "tadiah" (dinding anyaman bambu) untuk rumah darurat korban gempa, sehingga harus mendatangkan dari Bogor dan Banyumas," kata koordinator relawan Lembaga Amil Zakat Al-Azhar Arief Rahman di lokasi gempa Nagari Toboh, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu.
Al-Azhar merupakan salah satu gabungan LSM yang memberikan bantuan bagi korban gempa berupa pembangunan 1.000 unit rumah "bangkik basamo" (bangkit bersama) atau RBB di Padang Pariaman.
Ia menyebutkan dinding anyaman bambu merupakan ciri khas rumah bangkit bersama yang dibangun Al Azhar bagi korban gempa, sehingga kebutuhan akan bahan bangunan tersebut cukup banyak. Namun, pihak Al Azhar kesulitan mendapatkan bahan baku itu di Sumbar, sehingga harus mendatangkan dari Bogor dan Bayumas.
"Dengan mendatangkan dari Pulau Jawa, biayanya menjadi membengkak dan waktu yang dibutuhkan lebih lama, karena bahan baku itu harus menempuh perjalanan darat dalam beberapa hari," kata Arief.
Meski demikian, menurut dia, kesulitasn ini diharapkan tidak mengganggu pencapaian target membangun 1.000 unit RBB di Padang Pariaman. "Hanya biayanya lebih besar dan waktunya lebih lama," katanya.
Hingga kini, kata dia, dari 1.000 unit yang ditargetkan, 60 unit sudah selesai dibangun, 650 unit sedang dalam pembangunan, dan sisanya masih menunggu lokasi penerima bantuan ini.
Ia mengatakan korban penerima bantuan adalah yang memenuhi syarat yakni masih memiliki bahan bangunan berupa kayu dan seng dari puing-puing rumah mereka, memiliki lahan untuk tempat membangun rumah dan mau bekerja sama membangun RBB.
"Jadi, Al-Azhar tidak membantu seluruhnya dalam pembangunan rumah itu, tetapi dengan kerja sama serta keterlibatan pihak korban dalam membangun rumahnya," katanya.
Rumah "bangkik basamo" adalah semi permanen dengan luas 6x5 meter terdiri dari dua kamar tidur (masing-masing 3x3 meter) serta satu ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga/ruang makan.
Rumah dibangun dengan lantai cor semen, dan dinding setinggi 50 centimeter dari lantai, dengan susunan bata direkat semen dan ke atasnya bertiang kayu serta dingin dari anyaman bambu (tadiah).
Untuk pembangunannya Al-Azhar memberikan bantuan pasir satu mobil pick-up, tiga sak semen, batu bata secukupnya, dan lembaran anyaman bambu sesuai kebutuhan. Sedangkan korban menyediakan kayu yang dibutuhkan dan seng dari puing-puing rumahnya yang roboh.
Pelaksanaan pembangunan dilakukan relawan Al-Azhar bersama korban dan keluarganya serta masyarakat setempat.
Hingga kini telah terdata 720 korban gempa yang akan menerima bantuan tersebut, 60 rumah di antaranya selesai dibangun dan telah ditempati, serta 650 rumah masih dalam pengerjaan.
Korban yang menerima bantuan tersebut adalah mereka yang rumahnya roboh atau tidak dapat ditempati lagi di Nagari Ulakan, Toboh dan Lubuk Alung, serta nagari lainnya di Padang Pariaman.
